MATARAM, PolitikaNTB — Ahmad Mustanir resmi bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan dipercaya mengemban amanah sebagai Dewan Pembina DPD PSI Lombok Tengah. Kehadirannya di partai tersebut ditandai dengan prosesi pemakaian jaket PSI secara langsung oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, beberapa waktu lalu.
Mustanir yang merupakan putra sulung Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Prof. Dr. TGH Arifin Munir, menyampaikan bahwa pilihannya bergabung dengan PSI dilandasi oleh kesamaan nilai. Ia melihat PSI membawa semangat pembaruan, keterbukaan, serta komitmen pada politik yang bersih dan berbasis gagasan.
“Saya bergabung dengan PSI karena melihat semangat pembaruan, keterbukaan, dan komitmen pada politik yang bersih serta berbasis gagasan. Ini sejalan dengan nilai-nilai yang saya yakini dalam pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya pada Selasa (5/5/2026).

Selain dikenal sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Wathan, Mustanir juga aktif sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda NW. Dalam perannya di PSI, ia menegaskan akan fokus pada penguatan konsolidasi organisasi dan kaderisasi generasi muda, serta mendorong program-program yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat Lombok Tengah.
“Fokus saya adalah penguatan konsolidasi organisasi, kaderisasi generasi muda, serta menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Terkait peluang maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029 melalui PSI, Mustanir memilih untuk tidak terburu-buru. Ia menyatakan saat ini ingin lebih memprioritaskan kerja-kerja organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
“Untuk Pileg 2029, saya masih fokus pada pengabdian dan kerja-kerja organisasi saat ini. Ke depan tentu akan dipertimbangkan secara matang dengan melihat kebutuhan dan aspirasi masyarakat,” jelasnya.
Menanggapi dinamika politik yang berkembang, khususnya terkait keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan yang secara organisasi telah bergabung dengan Partai Gerindra, Mustanir menegaskan bahwa ia tetap menghormati keputusan tersebut. Menurutnya, pilihan politik yang diambilnya merupakan ranah personal yang dijalankan dengan tetap menjaga etika, adab, dan nilai-nilai organisasi.
“Saya menghormati keputusan organisasi. Pilihan politik saya adalah ranah personal yang tetap saya jalankan dengan menjaga etika, adab, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai organisasi. Komunikasi dan silaturahmi dengan semua pihak tetap saya jaga,” ungkapnya.
Ia juga menilai perbedaan pilihan politik sebagai hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Bagi Mustanir, yang terpenting adalah menjaga persatuan serta menjadikan perbedaan sebagai ruang saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan.
“Perbedaan ini adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Pilihan ini juga merupakan perjalanan dalam mencari wadah perjuangan yang sejalan, bukan untuk berlawanan dengan organisasi, melainkan sebagai jalan lain untuk tetap memperjuangkan nilai-nilai yang sama,” tutupnya.





