Oleh: dr. Lalu Fatria Zulhadi (Dokter RSI Yatofa / RSUD Praya)
Nyeri perut merupakan salah satu keluhan kesehatan paling sering dijumpai di masyarakat dan menjadi alasan utama kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Keluhan ini dapat dialami oleh semua kelompok usia, baik dewasa maupun anak-anak. Dalam kehidupan sehari-hari, nyeri perut kerap dianggap sebagai gangguan ringan akibat masuk angin, salah makan, atau kelelahan, sehingga penanganan awal yang sering dilakukan adalah pijat perut.
Tradisi pijat perut telah lama dikenal dan menjadi bagian dari kearifan lokal di berbagai daerah termasuk masyarakat sasak. Pada kondisi tertentu, pijat dapat memberi rasa nyaman. Namun, dari sudut pandang kedokteran berbasis bukti, nyeri perut terutama yang bersifat akut tidak selalu merupakan kondisi ringan. Dalam banyak kasus, nyeri perut justru merupakan tanda awal kegawatdaruratan bedah pada saluran pencernaan yang membutuhkan penanganan medis segera.
Data medis menunjukkan bahwa nyeri perut akut menyumbang sekitar 5–10% dari seluruh kunjungan ke instalasi gawat darurat. Dari jumlah tersebut, sekitar 5–20% memerlukan tindakan bedah darurat.
Pada kelompok dewasa, penyebab tersering kegawatdaruratan bedah pada saluran pencernaan meliputi radang usus buntu, penyumbatan pada usus, kebocoran saluran pencernaan, hernia atau turun berok, serta perdarahan saluran cerna.
Sementara pada anak, kasus yang sering dijumpai antara lain radang usus buntu, intususepsi atau sebagian usus terlipat ke dalam segmen usus lainnya , dan penyumbatan pada usus. Secara konsisten, radang usus buntu tercatat sebagai penyebab operasi darurat tersering pada dewasa dan anak.
Masalah muncul ketika nyeri perut ditangani terlebih dahulu dengan pijat tanpa evaluasi medis. Dalam ilmu kedokteran, manipulasi atau tekanan pada perut tidak dianjurkan pada nyeri perut akut yang belum diketahui penyebabnya.
Tekanan pada dinding perut dapat memperberat proses peradangan, meningkatkan risiko perdarahan, serta mempercepat terjadinya komplikasi seperti kebocoran usus atau penyebaran infeksi ke rongga perut.
Berbagai studi bedah pada saluran pencernaan menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis dan tindakan pada kasus bedah akut secara bermakna meningkatkan angka komplikasi, lama rawat inap, serta risiko kematian.
Pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi lanjut sering kali setelah upaya penanganan non-medis berulang lebih sering membutuhkan operasi darurat dibandingkan operasi terencana, dengan risiko pascaoperasi yang lebih tinggi.
Penting dipahami bahwa tidak semua nyeri perut membutuhkan tindakan bedah, tetapi setiap nyeri perut akut memerlukan kewaspadaan dan penilaian medis yang tepat. Prinsip utama dalam tata laksana nyeri perut adalah mengenali tanda bahaya dan menghindari intervensi yang dapat menunda diagnosis.
Masyarakat perlu mengenali tanda bahaya nyeri perut yang mengharuskan segera ke dokter atau fasilitas kesehatan, antara lain:
• Nyeri perut hebat atau semakin memberat
• Nyeri perut disertai demam
• Muntah berulang, terutama berwarna hijau atau kehitaman
• Perut kembung, tegang, dan tidak bisa buang gas atau buang air besar
• Nyeri hebat saat perut disentuh
• Nyeri perut tidak membaik dalam beberapa jam
Jika tanda-tanda tersebut muncul, pijat perut sebaiknya dihentikan dan pemeriksaan medis harus menjadi pilihan utama.
Pendekatan terhadap tradisi pijat perut tidak seharusnya dilakukan dengan menyalahkan budaya. Kearifan lokal adalah bagian dari identitas Masyarakat kita sebagai suku Sasak.
Namun, dalam nilai agama dan kemanusiaan, menjaga keselamatan jiwa adalah kewajiban utama. Ikhtiar terbaik adalah mencari pertolongan yang tepat, berdasarkan ilmu dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam ajaran agama, setiap tubuh adalah amanah. Menunda pengobatan yang seharusnya dapat mencegah mudarat yang lebih besar bukanlah bentuk tawakal, melainkan kelalaian.
Tradisi dan ilmu pengetahuan seharusnya berjalan berdampingan, saling melengkapi, dengan keselamatan manusia sebagai tujuan utama.
Pada akhirnya, pertanyaan “dipijat atau diperiksa” seharusnya dijawab dengan kesadaran dan pengetahuan. Pada nyeri perut baik pada dewasa maupun anak memilih untuk segera diperiksa di fasilitas kesehatan adalah bentuk ikhtiar, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan yang telah dipercayakan kepada kita.




