Dari Aktivis ke Kursi Kepala Desa, Aze Bawa Semangat Kolaborasi Lintas Generasi di Semparu

LOMBOK TENGAH, PolitikaNTB – Usianya baru 29 tahun. Namun, Kemas Muhammad Assajazi berhasil memenangkan kepercayaan masyarakat untuk memimpin Desa Semparu, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Kehadirannya sekaligus menandai babak baru kepemimpinan desa dengan tampilnya sosok anak muda sebagai kepala desa.
Kepemimpinan yang kini diamanahkan kepadanya bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Kemas, yang akrab disapa Aze, memiliki perjalanan panjang dalam dunia gerakan mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu ruang penting yang menempa pemikiran, karakter, serta kapasitas kepemimpinannya.
Pengalaman organisasinya tidak berhenti di situ.
Aze pernah dipercaya menjadi Ketua Forum Mahasiswa Tatastu Trasna Lombok Tengah. Saat ini, dia juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Lombok Tengah.
Sementara itu, proses pengabdiannya di Desa Semparu telah dimulai sejak 2019. Melalui Karang Taruna desa, dia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang difasilitasi oleh pemerintahan desa sebelumnya.
Ketertarikannya terhadap politik dan pengabdian publik sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum dirinya memutuskan maju dalam Pilkades 2026. Pada Pilkades 2018, Aze masih berstatus mahasiswa dan belum terlibat dalam tim sukses.
Waktu tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan dan pematangan kapasitas dirinya sebelum akhirnya berani mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Ketika ditanya mengenai alasan utama yang mendorongnya maju dalam kontestasi Pilkades, Aze tidak memberikan jawaban yang normatif. Baginya, keinginan mengabdi kepada tanah kelahiran merupakan panggilan hati nurani yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan melalui kata-kata.
“Ibarat kita jatuh cinta kepada seorang wanita, ada alasan kita ingin bergerak cuma secara utuh tidak akan mampu kita jelaskan karena ini berdasarkan nurani,” ucap Aze saat ditemui di kediamannya, Senin (2/11/2026).
Di balik kemenangannya, Aze membawa satu gagasan penting: anak muda harus memiliki ruang dan kesempatan untuk membuktikan kapasitasnya dalam memimpin pemerintahan. Dia ingin menunjukkan bahwa generasi muda bukan sekadar kelompok yang memiliki semangat perubahan, tetapi juga mampu memegang amanah dan menjalankan roda birokrasi desa.
Namun, bagi Aze, keberanian anak muda untuk bergerak tidak boleh berjalan tanpa pijakan moral. Keterlibatan dan restu para sesepuh tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses perubahan. Gagasan itulah yang kemudian dirangkum dalam jargon kampanyenya, Muda Bergerak, Tua Merestui.
“Muda bergerak, tua merestui itu juga mempunyai makna khusus. Jadi bagaimanapun pergerakan pemuda tentu ditopang oleh restu para orang tua,” ungkapnya.
Filosofi tersebut rupanya tidak sekadar menjadi slogan politik. Aze menerapkannya sebagai pendekatan dalam membangun komunikasi dan meraih kepercayaan masyarakat. Dia mengaku tidak membangun kedekatan dengan tokoh masyarakat secara mendadak menjelang pemungutan suara.
Sebaliknya, proses tersebut telah dimulai jauh sebelum tahapan resmi Pilkades berlangsung. Selama lebih dari sembilan bulan, dia membangun komunikasi, bersilaturahmi, meminta izin, sekaligus menyerap nasihat dari para tokoh dan penglingsir di Desa Semparu.
“Kalau saya 9 bulan lebih berproses. dari bulan Februari saya start. Mengawali dengan kita meminta izin dulu, kita silaturahim mendengar semua nasihat, mendengar semua masukan dari para tokoh-tokoh atau para penggeli sir yang ada di Desa,” jelasnya.
Pendekatan itu dilakukan secara berjenjang. Aze terlebih dahulu membangun komunikasi dengan para orang tua dan tokoh masyarakat sebelum mengonsolidasikan kekuatan generasi muda di setiap dusun.
“Sebelum tiang bergerak tentu kita meminta dulu berbicara dengan meminta nasihat dengan orang yang sepatutnya dimintai nasihat, setelah tiang meminta semua persetujuan ke orang tua, barulah tiang cari para pemuda untuk kita laksanakan apa yang menjadi hajat saya ini,” paparnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu kunci untuk menghindari sekat antargenerasi. Dia mengaku tidak menemukan penolakan dari tokoh agama maupun para penglingsir terhadap niatnya untuk maju dan mengabdi bagi Desa Semparu.
Perbedaan pandangan yang muncul di tengah masyarakat justru dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Baginya, keberagaman perspektif tidak harus menjadi sumber perpecahan, melainkan dapat dilebur menjadi kekuatan bersama dalam membangun desa.
“Perspektif yang beragam itu memang yang hadir. Cuma bagaimana perspektif ini ternyata bisa kita lebur ketika para orang tua merestui dan pemuda yang bergerak itu yang lebih pas bagi masyarakat Desa Semparu saat ini,” tuturnya.
Pola kolaborasi tersebut juga akan menjadi fondasi dalam menjalankan pemerintahan selama delapan tahun ke depan. Aze ingin menempatkan para tokoh senior sebagai sumber kebijaksanaan dan pemberi pertimbangan, sementara generasi muda diberi ruang lebih luas untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan program pembangunan.
“Di ruang dialog di ruang diskusi kita tetap akan bersama orang tua, tapi nanti di pelaksanaannya kita libatkan para pemuda,” tegas Aze.
Baginya, pembangunan desa membutuhkan keseimbangan antara pengalaman dan energi perubahan. Kebijaksanaan orang tua harus berjalan beriringan dengan ekspresi serta kreativitas generasi muda. Karena itu, dia tidak ingin pemerintahan desa hanya bertumpu pada salah satu kelompok usia.
“Apapun kebijaksanaan orang tua dengan ekspresi pemuda ini melebarkan disatukan dalam proses pembangunan 8 tahun ke depan. Gak mungkin kita libatkan salah satu,” tambahnya.
Semangat kolaborasi tersebut akan dijalankan di tengah berbagai capaian yang telah ditorehkan Desa Semparu. Desa ini tercatat memiliki sejumlah prestasi di tingkat daerah maupun nasional.
Di antaranya, Juara II Lomba Desa Tingkat Nasional Tahun 2023. Desa Semparu juga memperoleh penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri atas keberhasilannya dalam evaluasi perkembangan desa pada skala nasional.
Prestasi lainnya adalah penghargaan Desa Cantik (Cinta Statistik) Terbaik Nasional periode 2024–2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai bentuk apresiasi terhadap pengelolaan dan pengolahan data statistik berbasis desa.
Pada 2025, Desa Semparu juga meraih predikat Desa Terinformatif di NTB dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KIP) NTB.
Predikat tersebut diperoleh dengan nilai 98, mencerminkan capaian dalam penyelenggaraan layanan informasi publik yang transparan.
Terbaru, Desa Semparu berhasil meraih Juara I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2026. Penetapan pemenang diumumkan di Mataram berdasarkan hasil penilaian resmi dengan perolehan nilai 816.
Berbagai capaian tersebut menjadi modal penting sekaligus tantangan bagi kepemimpinan baru. Aze dihadapkan pada tanggung jawab untuk menjaga prestasi yang telah dirintis sekaligus menghadirkan inovasi pembangunan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, kehadiran pemimpin muda juga diharapkan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi generasi muda desa. Kedekatan komunikasi dan kesamaan ruang sosial diharapkan membuat pemuda lebih leluasa menyampaikan aspirasi serta mengambil peran dalam pembangunan.
Bagi Aze, keterlibatan dalam organisasi dan pengabdian masyarakat seharusnya tidak berorientasi pada keuntungan pribadi. Ada nilai pengabdian yang lebih besar daripada sekadar jabatan, posisi, maupun apa yang bisa diperoleh dari sebuah organisasi.
Pesan itulah yang dia titipkan kepada generasi muda yang ingin mengambil bagian dalam perubahan di desa.
“Ubah cara pandang kepada mereka: jadi perspektif apa yang mampu kita perbuat, bukan apa yang mampu kita dapatkan,” tutupnya.




