OPINI: TGB dan Jalan Istiqamah Menjaga Napas Pendidikan Pesantren

Ada sikap yang tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan kehadiran. Itulah yang ditunjukkan TGB Zainul Majdi ketika hadir langsung di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat NWDI, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat tadi.
Kehadiran TGB di tengah sorotan terhadap pondok pesantren tersebut bukanlah langkah untuk membantah tuduhan, apalagi mengambil alih proses hukum. Justru sebaliknya, ia datang dengan sikap yang jernih: mendukung penegakan hukum sekaligus memastikan bahwa proses yang sedang berlangsung tidak memutus hak ratusan santri untuk memperoleh pendidikan.
Di sinilah pilihan sikap TGB menjadi penting. Ia memilih hadir ketika banyak orang mungkin memilih menjaga jarak. Ia memilih melihat santri sebagai anak-anak yang tetap memiliki hak untuk belajar, bertumbuh, dan menuntut ilmu. Sebab, dalam tradisi pesantren, thullabul βilmi tidak boleh menjadi korban dari persoalan yang melekat pada individu.
TGB memahami bahwa pesantren jauh lebih besar daripada sosok yang sedang memimpinnya. Pesantren adalah amanah, tempat ditanamkannya ilmu, adab, akhlak, dan nilai-nilai keislaman. Karena itu, ketika ada persoalan yang menimpa satu bagian dari pesantren, yang harus dijaga bukan sekadar nama lembaganya, tetapi keberlangsungan pendidikan para santri.
Dalam kesempatan tersebut, TGB menguraikan cerita dan hikmah kala peristiwa wafatnya Rasulullah SAW. Peristiwa itu merupakan salah satu masa paling berat yang pernah dialami umat Islam. Namun wafatnya Rasulullah tidak membuat risalah berhenti. Duka tidak boleh menghapus perjuangan. Kehilangan tidak boleh membuat umat kehilangan arah.
Pesan yang sama relevan dengan situasi pesantren hari ini. βSituasi ini adalah cara Allah SWT menguji tekad kita,β demikian TGB menegaskan. Sebuah ujian tidak selalu hadir untuk menghentikan langkah. Ada kalanya ujian justru menjadi cara Allah SWT mengukur sejauh mana keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah seseorang dalam menjaga amanah.
Karena itu, sikap TGB bukanlah sikap untuk mengabaikan persoalan. Ia justru menegaskan komitmennya terhadap penegakan hukum. Hukum harus berjalan, fakta harus diuji, dan setiap persoalan harus ditempatkan sesuai porsinya. Tetapi pada saat yang sama, hak para santri untuk belajar juga harus dijaga. Dua hal tersebut tidak harus dipertentangkan.
Sikap semacam ini mengingatkan kembali pada napas perjuangan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, kakek TGB Zainul Majdi. Sejak awal perjuangannya, Maulana Syaikh menempatkan pendidikan sebagai jalan utama membangun umat.
Madrasah dan pesantren bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi menjadi medan jihad bil βilmi: perjuangan membangun manusia melalui ilmu, iman, dan akhlak.
Maka, menjaga keberlangsungan pendidikan
pesantren sesungguhnya adalah menjaga salah satu mata rantai perjuangan itu sendiri. Sebab zaman boleh berubah, persoalan boleh datang silih berganti, tetapi ruh tarbiyah tidak boleh padam.
Apa yang dilakukan TGB hari ini dapat dibaca sebagai sebuah keteladanan: bahwa keberanian bukan hanya tentang berbicara ketika keadaan aman, tetapi tentang berani hadir ketika keadaan sulit. Konsistensi bukan sekadar mempertahankan pendapat, tetapi tetap menjaga nilai yang diyakini benar di tengah keadaan yang tidak mudah.
Pada akhirnya, pesantren membutuhkan sikap yang adil, jernih, dan istiqamah. Jika ada dugaan pelanggaran, hukum harus ditegakkan. Jika ada santri yang membutuhkan pendidikan, pendidikan harus tetap berjalan. Dan jika ada lembaga yang sedang menghadapi ujian, maka orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan umat semestinya tidak buru-buru meninggalkannya.
Sebab perjuangan pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah ujian datang. Sebagaimana Rasulullah SAW meninggalkan umatnya dengan risalah yang terus hidup, demikian pula para pejuang pendidikan meninggalkan amanah yang harus terus dijaga.
Dan dalam konteks itulah, kehadiran TGB Zainul Majdi di tengah pesantren menjadi sebuah pesan sederhana: persoalan harus diselesaikan, hukum harus ditegakkan, tetapi cahaya pendidikan para santri jangan sampai dipadamkan.
Kini, setelah pengelolaan pesantren diserahkan kepada TGB, Ponpes Abul Barokat Bunkate memasuki fase baru. Bagi ratusan santri yang masih menimba ilmu di dalamnya, pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar perubahan struktur pengelolaan.
Lebih dari itu, mereka tengah menunggu satu hal penting: pesantren tetap menjadi tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh dan mengejar masa depan. Di aula pesantren, gema takbir yang mengiringi penyerahan amanah itu seakan menjadi penanda bahwa di tengah badai persoalan, masih ada harapan agar pendidikan para santri tetap berjalan.



