Pemerintahan

Baznas RI Pantau dan Pastikan Program Pemberdayaan Peternak di Lombok Tengah Berjalan Optimal

LOMBOK TENGAH, PolitikaNTB – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Dr. Ir. Sodik Mudjahid, M.Sc., memantau perkembangan program Balai Ternak di Desa Pagutan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Kamis, 23 April 2026.

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan bahwa program pemberdayaan tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Program ini mengintegrasikan bantuan modal ternak, pendampingan keilmuan, hingga penguatan nilai sosial, guna memutus rantai kemiskinan dari tingkat pedesaan.

Ketua Baznas RI, Dr. Ir. Sodik Mudjahid, M.Sc., mengatakan, kedatangannya kali ini untuk memastikan manfaat dari program tersebut.

“Saya ingin mendapatkan kepastian bahwa betul-betul memberi manfaat. Jangan hanya memberikan laporan yang hanya menyenangkan saja,” katanya menjawab pertanyaan pada Kamis, 23 April 2026.

Di Desa Pagutan, program ini melibatkan 30 peternak lokal yang mengelola lebih dari 60 ekor sapi secara komunal. Langkah ini merupakan implementasi mandat Undang-Undang bagi Baznas untuk mengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) guna membantu masyarakat, khususnya umat Islam, dalam berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Meski baru berjalan empat bulan, program ini mulai menunjukkan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kondisi ekonomi para anggota kelompok peternak.

Ketua Kelompok Peternak Sapi “Jelata” (Jelas dan nyata), Jamharimatan, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Ketua Baznas RI dan Ketua Baznas Provinsi NTB atas bantuan program tersebut. Ia juga mengatakan, jika program ini memberikan harapan baru bagi kesejahteraan ekonomi keluarga, termasuk jaminan pendidikan bagi anak-anak mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Selain itu, keberadaan balai ternak ini juga mendorong perubahan pola interaksi sosial di Dusun Tunjang, Desa Pagutan. Kepala Desa Pagutan, Subandi, menyebut bahwa lokasi tersebut kini telah menjadi pusat silaturahmi baru bagi warga.

Setelah kehadiran balai ini, warga yang sebelumnya hanya bertemu di masjid secara rutin kini berkumpul setiap pagi dan malam di kandang untuk bergotong-royong. “Saya rasa ini adalah salah satu rumah ibadah kedua setelah masjid,” ujar Subandi.

Pilar Keberlanjutan

Sodik menegaskan tiga pilar utama agar program pemberdayaan ini tidak berhenti di tengah jalan. Pertama, kekompakan dan spiritualitas anggota kelompok dalam beribadah.

Kedua, penguasaan ilmu pengetahuan, mulai dari manajemen gizi ternak hingga pengelolaan limbah menjadi kompos bernilai ekonomi. Ketiga adalah kolaborasi dalam hal pemasaran.
Ia juga menekankan bahwa aspek keilmuan menjadi hal krusial agar para peternak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Jangan lupa kita juga harus terus menuntut ilmu agar mengurus sapinya lebih bagus lagi,” tegasnya.

Target Kemandirian

Pada akhirnya, program ini diarahkan untuk mendorong transformasi status ekonomi para peternak. Baznas menargetkan para penerima zakat (mustahik) dapat berkembang menjadi pemberi zakat (muzakki) di masa depan.

Kemandirian tersebut diharapkan dapat tercapai melalui pengelolaan yang profesional, pengembangan ternak sesuai kebutuhan pasar, serta optimalisasi potensi penyediaan hewan kurban.

Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah desa, kelompok peternak, dan Baznas, ekosistem ini diharapkan menjadi contoh pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas di NTB.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button